Category: Artikel


Pagi ini, seperti hari-hari yang lalu aku bersiap berangkat kuliah.  Kebetulan juga hari ini adalah hari ke-2 pelaksanaan UTS. Sebelum berangkat, aku harus sarapan makan yang bergizi dulu dong. Kan nantinya Otak kecil saya ini akan berfikir keras unuk menjawab soal-soal yang “membosankan”.

Ini dia menu pagi saya

kira-kira dengan menu seperti ini mampu ndak ya Otak kosong saya menyelesaikan semua soal yang “membosankan” tadi

Semuanya saya serahkan kepada Sang pemilik Nafasku. Sebagai hamba, saya hanya mencoba dan dalam proses melaksanakan kewajiban sebagi hamba.

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Namun saya terkadang berbicara pada diri saya sendiri, benarkah alasan saya dalam menuntut ilmu ini? benarkah Niat saya dalam menuntut ilmu ini?

Karena yang saya tau, selama ini saya hanya seorang hamba yang terlalu mengejar dunia semata. dan terlampau banyak Hijab yang menghalangi antara saya, dan DIA.  Apalagi saya hanya Hamba yang belum mencapai tahapan Ikhlas semata karena DIA.

Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim).

Syorga.itulah imbalan yang diberikan DIA pada kita. Kalau saya hanya mencari Syorga, sugguh malunya diriku di hadapanNya di hari bankit kelak. Tapi saya juga hanya seorang manusia yang tak akan pernah bisa sempurna. Kalaupun niat itu ada dalam diri saya, saya akan belajar untuk melepaskannya jauh dari saya. dan belajar menjadi Hamba yang seutuhnya ikhlas.

dan saya tak akan pernah ingin menjadi hamba seperti yang ada di hadits ini:

Na’udzubiLLAH.

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sudah sudah. cukup sedikit dulu catatan berdebu untuk koreksi diri saya..

Kembali ke Laptop..(UTS).

Alhamdulillah…UTS berjalan mulus. Meskipun saya tidak begitu yakin benar tidaknya.. 🙂

Karena orientasi saya bukan pada hasil, saya lebih memfokuskan pada Proses. Seusai UTS Mat.Kul pertama, seperti biasa saya bercengkrama, ngobrol, dan bercanda dengan teman-teman.

ada yang lagi baca-baca, dan asal nampang aja…:-)

eh,ada yang lagi kencan…..

eeee…ada yang nglamun

maaf kalau foto saya tidak Nongol di situ. Karena saya kan juga berobsesi jadi seorang fotografer lepas. 🙂

sekian dulu catatan berdebu saya…

yang bisa saya ambil dalam perjalanan saya hari ini adalah,

Sepiring nasi untuk Kebahagiaan yang abadi di sisihNya. asalakan dilakukan dengan ikhlas.

Itulah nikmatnya sepiring nasi di pagi hari…..








Bertanya dan Menjawab

Dahulu waktu aku masih kecil di sekolah dasar tolak ukur sebuah kepandaian adalah mampu menjawab pertanyaan. siapa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar menjadi ukuran dia yang paing pandai.

Namun saat menginjak dewasa ukuran sebuah kepandaian sudah berubah. dari menjawab pertanyaan menjadi Memberi pertanyaan. itu ukuran daam perguruan tinggi.

Tapi sebentar agi UTS, dan di sini aku disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang membsankan. wah…kalau kembai menjawab pertanyaan gini, jadi ingat masa SD dong….ha ha ha….

bercanda deh…sebenarnya pandai itu relatif lah. semua rang tak ada yang sempurna. satu pandai di bidang ini, tapi di bidang ain ia emah. begitulah Adinya Tuhan..

tapi kalau buatku pandai itu ga begitu penting sih, ya penting juga seh…tapi ku lebih memilih menjadi KREATIF daripada menjadi pandai.

wassalam,,,,

Saat tengah dirundung rasa tertekan, wanita dan pria memiliki perilaku berbeda. Wanita cenderung lebih membuka diri, sementara pria lebih tertutup.

Stres kerap menimbulkan perasaan cemas, tertekan atau gundah bagi mereka yang mengalaminya. Hal ini berlaku baik bagi pria maupun wanita. Namun ahli psikologi menemukan, saat seperti ini wanita dan pria menampakkan tindakan yang berbeda.

Hasil penelitian tim di University of Southern California yang dipimpin Mara Mather menyebutkan, wanita akan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan mencari teman baru ketika stres. Sebaliknya pria akan menjadi anti-sosial dan menutup diri dari pergaulan.

Seperti dilansir Times of India, Jumat (23/4/2010), penelitian ini memperkuat studi sebelumnya yang menyebutkan hal sama. Bahwa skenario untuk tidak berbicara atau tidak bergaul akan cenderung terjadi pada pria saat berada di bawah tekanan.

“Pria akan merasa lebih nyaman sendiri saat tertekan, dan wanita berusaha menghibur diri dengan menggeluti berbagai aktivitas untuk melupakan stres yang dialaminya,” kata Mather.

Tatkala siang meninggalkan peraduannya, maka malampun akan datang menempati singgasananya. Dan bila sekarang panas matahari bersinar membakar dedaunan dan bebijian, pasti lain waktu bebijian dan dedaunan akan tumbuh subur diguyur oleh deras hujan.. Memang, demikianlah kehidupan yang selalu berputar silih berganti . Ada siang ada malam, ada panas dan ada hujan, yang telah diciptakan secara berpasang-pasang. Begitupun dengan kehidupan manusia, yang telah tercipta dengan adanya dua jenis yang berlawanan. Yaitu “laki-laki” atau “pria” dan “wanita” atau “perempuan”. Sudah menjadi kodrat dari Sang kuasa, bahwa wanita adalah tercipta sebagai pendamping pria. Dan hal itu dapat terwujud bila antara pria dan wanita disatukan dalam suatu ikatan pernikahan yang sesuai dengan tatanan Syari’at Islam. Sebuah pernikahan tidaklah dapat begitu saja dilansungkan tanpa adanya penentuan calon pendamping hidup oleh sang pria. Padahal tidaklah mudah bagi kaum pria untuk bisa memilih dan menentukannya. Karena dari sekian juta jiwa wanita yang tercipta di dunia ini dengan segenap daya tarik yang dimilikinya, hanyalah salah satu (keculi adanya poligami) diantara mereka yang akan terpilih dan menjadi pendampingnya. Seyogyanya tidaklah pada sembarang wanita, seorang muslim menentukan pilihan sebagai pendamping hidupnya. Islam telah menetapkan batasan-batasan tertentu bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang ideal sebagai pasangannya.

WANITA IDEAL DALAM PANDANGAN ISLAM

Memilih istri yang cocok untuk dirinya adalah merupakan suatu keharusan bagi muslim, karena hal ini sebagai kunci keberhasilan dalam berumah tangga Disebabkan oleh banyak faktor, seorang pria bisa tertarik untuk menikahi seorang wanita. Diantaranya adalah faktor kekayaan, kecantikan, derajat/pangkat, keturunan, budi pekerti dan keagamaan. Dari sekian banyak faktor tersebut, hanyalah agama dan budi pekerti sebagai pilihan utama dalam diri seorang wanita. Karena sesungguhnya kecantikan itu bisa pudar dimakan usia, sedangkan harta ataupun tahta akan bisa lenyap oleh kondisi yang memporak porandakannya. Tidaklah berarti bila suatu ketinggian derajat dan keluhuran nasab tanpa disertai dengan kemuliaan akhlaq dan agama yang kuat. Ini adalah suatu argumen mengapa agama dan akhlaq lebih diutamakan dalam memilih seorang wanita. Demikian ini sudah terbukti bahwa dua faktor itulah yang akan mengantarkan pada ketenangan hati dan ketentraman jiwa menuju hiup bahagia dan ridloNya.

NADHOR KEPADA CALON ISTRI

Pernikahan itu adalah perbuatan yang sakral, dilakukan untuk menyatukan dua jenis dan dua karakter yang berbeda. Oleh karenanya Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar melihat, mengamati dan meneliti kepada wanita yang akan dijadikan istri. Dan itu adalah merupakan sunnah Nabi yang telah dijadikan sebagai peradaban Islam. Diciptakan seorang wanita dengan menyandang berbagai daya tarik dan keistimewaan pada dirinya. Begitu pula dengan seorang pria. Diantara keduanya saling memiliki keistimewaan dan daya tarik yang kadang berbeda supaya dapat saling melengkapi diantara keduanya. Tidaklah merupakan suatu perbuatan dosa jika seorang pria melakukan nadhor kepada ajnabiyyah yang akan dijadikan istri baginya. Bahkan sebagian dari ulama’ sholih tidak akan menikahkan anak perempuannya sebelum adanya nadhor dari pria yang meminang untuk putrinya. Demikian ini bertujuan untuk mencari kecocokan diantara kedua belah pihak dalam menghadapi kehidupan berumah tangga nantinya dan supaya tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Tapi syari’at Islam telah memberikan batasan dalam nadhor tersebut. Islam hanya memperbolehkan wajah dan kedua telapak tangan calon istri untuk dilihat. Dengan melihat wajah akan terlihat paras si wanita, dan dengan melihat kedua telapak tangan akan menunjukkan bentuk tubuhnya. Dan bila nadhor itu dilakukan pada selain batas yang telah ditentukan dalam Islam maka itu termasuk ajaran syaithon yang telah dibudayakan oleh orang-orang kafir. Dan apabila seorang pria tidak dapat melakukan nadhor dengan sendirinya kepada calon istri, maka hendaknya ia memerintahkan kepada seorang wanita yang telah dipercaya untuk melakukannya, yang diharapkan wanita ini nantinya akan memberikan infomasi kepadanya tentang sifat-sifat calon istrinya tersebut. Karena Rasulullah sendiri pernah memerintahkan kepada shahabat Ummu Sulaim untuk melakukan nadhor kepada seorang wanita. Rosulullah bersabda, “lihatlah pada tumitnya lalu ciumlah bau mulutnya”. Namun sayang sungguh sayang, kebanyakan dari masyarakat masa kini telah meninggalkan peradaban islam yang disunnahkan ini. Mereka berasumsi bahwa melakukan nadhor itu adalah perbuatan orang-orang bodoh. Karena bila nadhor itu sudah dilakukan dan ternyata tidak diketemukan kecocokan diantara kedua belah pihak maka diantara satu dan lainnya akan mempergunjingkan sisi negatif dari wanita yang di nadhornya, kemudian hal ini dapat menyebabkan keengganan pria lain untuk memilih wanita tersebut. Wana’udzu billahi min syarri dzalik.

Keyakinan akan munculnya Al-Masih di akhir zaman juga diakui Yahudi dan Nasrani. Namun tentu saja keyakinan mereka menyimpang dari kebenaran (Islam) yang kemudian mewujud menjadi kekufuran terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yahudi
Di antara aqidah Yahudi, mereka meyakini kemunculan seseorang yang diklaim bakal mengembalikan kejayaan mereka. Mereka menyebutnya “Al-Masih Al-Muntazhar” yakni Al-Masih yang dinanti. Dalam keyakinan mereka, orang tersebut berasal dari keluarga Nabi Dawud, yang nantinya akan menundukkan umat, memperbudak mereka, dan mengembalikan kejayaan Yahudi. Serta berbagai keyakinan dan harapan yang dibumbui bermacam-macam kedustaan sebagaimana tertera dalam kitab Talmud mereka. Aqidah ini terus mereka yakini hingga saat ini, terbukti dengan tercantumnya hal itu dalam Protokolat Yahudi Zionis. (Dirasat fil Adyan, hal. 265, Badzlul Majhud, 1/227)

Nasrani
Orang-orang Nasrani juga meyakini akan munculnya Al-Masih di akhir zaman meskipun mereka telah meyakini kematiannya. “Injil-injil” mereka menyebut, Isa disalib pada Jum’at dini hari lalu meninggal pada sore harinya setelah menyeru: “Tuhanku, Tuhanku, mengapa engkau biarkan aku?”1 Selanjutnya pada malam itu, diturunkan dari salib dan dimasukkan ke liang kubur malam itu juga serta terus di dalam kubur hingga malam Ahad. Esoknya, pada hari Ahad, ketika orang-orang datang ke kuburannya ternyata kuburnya telah kosong. Dikatakan kepada mereka bahwa ia bangkit dari kuburnya, lantas tinggal bersama mereka selama 40 hari lalu ia terangkat ke langit sementara mereka melihatnya.

Demikian –secara ringkas– “injil-injil” mereka menyebut. Sebuah keyakinan yang pasti bahwa injil-injil mereka telah mereka selewengkan sehingga cerita semacam ini tidak bisa kita percayai. Terlebih yang jelas bertentangan dengan Al-Qur`an, yaitu penyebutan kematian Isa, penyaliban Isa, dan pembunuhan terhadapya.
Dari kisah tadi mereka meyakini akan kembalinya Isa di mana nantinya ia akan menghisab/menghitung amal manusia, membalas mereka, serta mengumpulkan kembali orang-orang Nasrani. (Dirasat fil Adyan hal. 264, 283)

Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan: Tiga umat menyepakati berita akan munculnya Al-Masih pembawa petunjuk dari keluarga Dawud dan Al-Masih pembawa kesesatan. Dan mereka sepakat bahwa Al-Masih pembawa kesesatan belum muncul, tapi akan muncul. Mereka juga sepakat bahwa Al-Masih pembawa petunjuk akan datang. Lalu muslimin dan Nasrani sepakat bahwa Al-Masih pembawa petunjuk adalah Isa bin Maryam, sementara Yahudi mengingkarinya, dengan pengakuan mereka bahwa Al-Masih itu memang dari keturunan Dawud. (Dalam pengingkaran ini, -pent.) mereka beralasan bahwa Al-Masih yang dijanjikan adalah yang seluruh manusia beriman kepadanya. Mereka beranggapan, Al-Masih Isa diutus dengan agama Nasrani padahal itu agama yang jelas salah. Karena itu, ketika muncul Al-Masih Ad-Dajjal mereka pun mengikutinya. Maka keluarlah mengikutinya 70.000 Yahudi Ashbahan2 yang memakai jubah hijau.” (Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dinal Masih, 3/324 dinukil dari kitab Badzlul Majhud, 1/262)

Dari keterangan Ibnu Taimiyyah rahimahullahu di atas, kita bisa mengambil suatu bantahan terhadap sikap Yahudi, di mana yang mereka sebut Al-Masih Al-Muntazhar itu sejatinya adalah Nabi Isa bin Maryam ‘alaihimassalam. Namun sejak diutusnya, mereka sudah mengingkarinya, bahkan melontarkan tuduhan-tuduhan keji serta tuduhan kekafiran kepada Isa dan kepada ibunya sebagaimana termaktub dalam kitab Talmud mereka3. Sehingga mereka, ketika turunnya Isa nanti di akhir zaman, akan menjadi musuh-musuh utama Nabi Isa. Maka terjadilah peristiwa terbunuhnya Al-Masih Ad-Dajjal pembawa kesesatan oleh Al-Masih Ibnu Maryam, pembawa hidayah. Sebagaimana terjadi pula peperangan antara pengikut masing-masing Al-Masih.

Lantas, Al-Masih apa yang dinanti Yahudi dengan segala harapan dan ‘kesabaran’ mereka? Ternyata dia adalah Al-Masih Ad-Dajjal, sang pembawa kesesatan, yang ternyata juga seorang Yahudi.
Adapun keyakinan Nasrani, walaupun mereka sepakat dengan muslimin bahwa yang dimaksud adalah Isa bin Maryam, namun pada perincian keyakinan mereka sangat jauh berbeda dan sangat bertolak belakang. Karena orang Nasrani meyakini Isa sebagai Tuhan dan nanti akan menghisab/menghitung amalan manusia serta membalasi amal mereka. Adapun muslimin meyakini bahwa Isa naik sebagai manusia, demikian pula turun sebagai manusia sebagaimana perincian yang telah lewat.

Atas dasar keyakinan mereka itu, mereka sejatinya lebih dekat kepada Al-Masih Ad-Dajjal, karena Dajjal nanti akan mengaku sebagai Tuhan dan akan membawa semacam surga dan neraka, menguji manusia dan membalas mereka. Sehingga bila seorang Nasrani tidak beriman akan kemanusiaan Al-Masih Ibnu Maryam, tentu ia akan menjadi pengikut Al-Masih Ad-Dajjal.
Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kami memohon keselamatan.

1 Dari kata-kata yang mereka kisahkan ini, kalau mereka jujur, mereka akan mengetahui bahwa Isa ‘alaihissalam sesungguhnya bukan Tuhan. Bahkan ia adalah seorang hamba yang butuh pertolongan Tuhannya.

Al-Masih Versi Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Adalah salah satu kelompok yang memanfaatkan keyakinan akan munculnya Al-Masih. Pencetus aliran ini mengaku bahwa dirinya telah mendapat wahyu di gunung Bunder, Bogor, dan menjadi Al-Masih, atau yang diistilahkan Mesias yang dijanjikan sebagai penyelamat. Dia sebut dirinya sebagai Al-Masih Al-Maw’ud, artinya Al-Masih yang dijanjikan.
Disayangkan, kawanan Al-Masih Palsu ini telah berhasil merekrut demikian banyak pengikut dari kalangan mahasiswa dan pelajar di berbagai penjuru tanah air. Cara yang mereka lakukan adalah dengan mengelabui pelajar muslim untuk mempelajari Al-Qur`an, namun mereka tafsirkan sesuai dengan misi mereka. Lantas mereka kait-kaitkan dengan ajaran Yesus yang ujung-ujungnya mencampur-adukkan antara ajaran Islam dan Kristen. Nampak dari luar Islam tapi dalamnya Kristen.

Mereka sendiri tidak melaksanakan syariat Islam, termasuk yang terpentingnya yaitu shalat lima waktu. Mereka menganggap orang yang shalat sebagai orang musyrik, dan bercita-cita memerangi orang-orang yang shalat. Syahadatnya pun sudah berbeda, bukan lagi “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah” tapi “Asyhadu Anna Al-Masih Al-Maw’ud Rasulullah.” Ini adalah kekafiran yang nyata!!! Namun tetap saja mereka mengelak ketika ditanya tentang syahadat mereka.
Dan pelbagai keyakinan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah yang sangat menyimpang dari prinsip ajaran Islam yang murni masih banyak.

Apakah demikian Al-Masih yang dijanjikan?! Kalau dia tetap sebut dirinya Al-Masih maka dia Al-Masih Ad-Dajjal cilik, artinya Al-Masih pendusta/pemalsu kecil. Maka waspadalah wahai kaum muslimin, gerak mereka masih senyap, belum terang-terangan. Lebih jauh tentang Al-Qiyadah Islamiyyah ini dapat dikaji di bagian lain majalah kita ini.